Rabu, 24 Agustus 2011

Mahasiswa, dan Utopia Indonesia Mercusuar Dunia


Mahasiswa yang akrab dengan istilah kaum intelektual yang sejak dahulu telah diyakini dan diharapkan sebagai pihak yang masih idealis untuk membangun bangsa dan Negara serta bebas dari intrik-intrik kepentingan bobrok partai politik, sepertinya kini itu semua hanya tinggalah wacana dan pepesan kosong. Pasalnya, kini mahasiswa tengah terjangkiti fenomena seperti yang bersebrangan dengan paparan kalimat di awal paragraph di atas.
Masa setelah pascareformasi kini, ternyata tidak ubahnya berbeda dengan masa-masa setelah penjatuhan rezim di masa-masa terdahulu, dirasa kini tidak ada perubahan yang signifikan akan kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalah perbaikan dan peningkatan kesejahteraan, masalah perbaikan, peningkatan dan pemerataan pendidikan, masalah perbaikan perekonomian, apalagi masalah kemajuan bangsa baik dalam teknologi, ilmu pengetahuan, sumber daya manusia, perekonomian, dll rasanya semua nihil akan perubahan yang mengarah pada progresivitas positif dan meningkat. Justru kini ironisnya hal-hal yag buruk dan disutopis cita cita pendirian Indonesia seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD’45 malahan tumbuh subur dan meningkat agregat dewasa ini tenggoklah prestasi yang luar biasa atas peningkatan kasus karupsi, peningkatan kasus-kasus mafia hokum dan pajak, peningkatan kasus gizi buruk, peningkatan kemiskinan dan kriminalitas, penigkatan disintegrasi kesatuan bangsa, dan peningkatan hal-hal buruk lainnya.
Miris, dan ironisnya sebagian besar tindak kejahatan yang begitu fatal akibatnya diperbuat oleh penegak hokum, pejabat Negara, atau justru mereka yang berpendidikan dan melek hokum. Tidak jauh dari kondisi ironis itu begitu pula dengan kondisi civitas akademika. Mulai dari dosen sampai mahasiswa Indonesia kini hamper terkena efek domino akan kebejatan moralis para putra bangsa Indonesia ini. Sebagai evaluasi kita bersama dan berdasarkan pengamatan penulis, kini mulai jarang dosen yang benar-benar mengabdi dan mementingkan sebuah kualitas, dosen kini jauh lebih sibuk memenuhi aktivitasnya dengan kegiatan yang dapat meraup lebih banyak rupiah dibanding dengan benar-benar mendidik dan membina para tunas bangsa agar proses regenerasi para penerus bangsa ini dapat berjalan dengan semestinya dan menghasilkan tunas penerus bangsa yang unggul dan bermoral.
                Kemudian mahasiswa kini pun sudah mulai meniru tabiat buruk para generasi tuanya, mahasiswa lebih senang dan nikmat memenuhi aktivitasnya dengan kegiatan yang berbau hedonis, matrealis, dan pragmatis. Mulai dari para aktivis mahasiswa yang walaupun tidak semua namun ada sebagian aktivis mahasiswa yang  alih-alih berdalih ingin menyampaikan aspirasi rakyat kecil nan tertindas namun ketika dirinya mendapat kesempatan memasuki kancah perpolitikan praktis dan gedung2 para elit ternyata realita semakin jauh dari idealita, kini yang ia perjuangkan justru sangat berbeda dengan apa yang ia teriakkan selama masih menjadi mahasiswa. Lebih memperjuangkan kepentingan pribadi dan golongan dibandingkan dengan memperjuangkan kepentingan umum atau kepentingan rakyat banyak, mereka semakin hari semakin elitis saja serta semakin kompak bergotong-royong dalam mencekik rakyat melalui kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan yang seharusnya mereka bela sesuai dengan amanah yang telah dipercayakan kepada mereka.
Itu sebagian contoh dari aktivis mahasiswa yang mulai terjun dalam politik praktis, ada pula sebagian fenomena aktivis mahasiswa yang aktif dalam organisasi-organisasi kemahasiswaan dengan tujuan meraih popularitas, meraih jabatan dalam organisasi kemahasiswaan, meraih keuntungan pribadi semata demi memuaskan nafsu pribadi semata. Ada pula aktivis-aktivis mahasiswa yang secara langsung maupun tak langsung berafiliasi dengan salah satu partai politik atau pun kepentingan ormas-ormas dan golongan. Mereka semua berlomba-lomba untuk menduduki jabatan penting di kampus (organisasi kemahasiswaan) agar bias menyebarkan pengaruh sekuat-kuatnya sehingga jadilah kampus sebagai pundi-pundi tabungan politik yang dapat menjadi penyokong suara dalam pemilu agar dapat menang dalam memperebutkan top kekuasaan di negeri ini. Selain itu ada pula mahasiswa yang lebih senang mengisi waktu luangnya untuk mainkartu, pacaran, kongkow-kongkow, kemudian ada pula mahasiswa yang mulai senang meneliti namun hanya untuk mengejar dan meraup rupiah sehingga semangat mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi tergadaikan.
Kita semua bias bayangkan atas kondisi di atas, mulai dari para elit yang justru barisan yang paling ada di garda terdepan dalam melakukan perbuatan yang melanggar hokum, kemudian dosen yang justru lebih mengambil sikap pragmatis dibandingkan untuk tetap beridealis guna menjadi pihak pengontrol jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan harapan, dan yang terakhir fenomena mahasiswa dan aktivis mahasiswa yang mulai meniru tabiat bobrok para elite dan dosen-dosen bermental pragmatis. Kesemuanya padahal dirasa orang yang berpendidikan dan orang-orang intelektual namun jauh dari mental moralis. Sepertinya ada yang salah dengan system pendidikan kita sehingga lebih marak output SDM yang seperti paparan di atas. Bagaimana jadinya jika Indonesia negeri yang ada karena perjuangan dan pengorbanan yang tak terkira baik harta, pikiran, tenaga, darah, air mata, dll dipimpin oleh manusia-manusia seperti paparan di atas.? “Ya”, akan seperti keadaan Indonesia saat ini, Indonesia yang terbelakang, Indonesia yang anarkis, Indonesia yang inlander,dll
Kembali kita mengerutkan kening dan ngeri akan masa depan kita sebagai putra bangsa Indonesia, sepertinya intropeksi diri sendiri, evaluasi diri sendiri dan kemudian kembali pada jalan yang benar dan berbuat semestinya apa yang bias kita buat sesuai dengan harapan yang termaktub dalam UUD’45 adalah cara yang solutif atas permasalahan bangsa yang saat ini sedang hadir. Intinya merupakan salah satu kedurhakaan besar terhadap Indonesia apabia kita tetap duduk diam berpangku tangan di tengah kondisi bangsa yang semakin terpuruk seperti ini. Mulai bergeraklah dan lakukan sesuatu untuk Indonesia..
Bangun dan tata kembali taman Indonesia kita, untuk masa depan kita, anak-cucu kita yang lebih baik dengan Indonesia...
Indonesia menjadi mercusuar dunia
Harman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar